RSS

JOKO Tole Vs AGUS Wedi

11 Mei

Pada jaman dahulu, yaitu sekitar abad 13, di Madura, tepatnya di Sumenep, ada seorang raja yang bernama Pangeran Mandaraga. Disebut Mandaraga karena tempat tinggalnya di Mandaraga. Pangeran Mandaraga memiliki dua orang putra, yang pertama adalah Pangeran Bukabu, dan yang kedua adalah Pangeran Baragung. Disebut Bukabu karena tempat tinggalnya di Bukabu, dan Baragung karena tempat tinggalnya di Baragung. Ketika Raja Mandaraga wafat, jenazahnya dimakamkan di tempat itu juga (sekarang Mandaraga menjadi sebuah kampung di Desa keles Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep). Di sebelah timur laut sumber Mandaraga adalah makam Pangeran Mandaraga, yang oleh orang-orang desa itu disebut “Asta patapan”, (makam pertapaan), karena pada zaman dahulu banyak orang yang datang bertapa di tempat yang dikeramatkan itu. Tak banyak diceritakan mengenai kehidupan Raja Mandaraga termasuk kedua putranya, yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung. Yang diceritakan hanya Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu dimakamkan di Bukabu (sekarang Bukabu menjadi sebuah desa di Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep). Sedangkan Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung (sekarang Baragung menjadi sebuah desa di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep). Pangeran Bukabu banyak menurunkan Para Kyai dan alim ulama di Madura umumnya dan di Sumenep pada khususnya. Pangeran Baragung meningggalkan seorang puteri yang bernama Endhang Kilengan. Ia bersuamikan Bramakanda. Dan, dalam perkawinannya itu, mereka dikarunia seorang putera yang bernama Wagungrukyat. Setelah Wagungrukyat menginjak dewasa, ia menjadi raja di Sumenep, dengan julukan Pangeran Saccadiningrat. Keratonnya terletak di Desa Banasare (sekarang Banasare termasuk Kecamatan rubaru). Pangeran Saccadiningrat kawin dengan saudara sepupu ibunya, yaitu Dewi Sarini. Tidak lama mereka dikaruniai seorang puteri bernama Saini, dengan julukan Raden Ayu Potre Koneng. Kulitnya mengkilat serta memiliki wajah yang sangat cantik. Setelah Raden Ayu Potre Koneng menginjak remaja, bapak ibunya menghimbau agar ia kawin. Namun, ia menolak karena tidak mengetahui sama sekali tentang masalah perkawinan. la lebih senang berbakti kepada Allah dari kawin. Karma itu pada suatu hari, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke goa payudan. Ia akan bertapa di tempat tersebut. Setelah direstui oleh ibu bapaknya, lalu ia berangkat bersama tiga orang pengiringnya. Dalam menjalani masa pertapaannya itu, Raden Ayu Potre Koneng tidak makan, tidak minum, dan tidak Pula tidur. Setelah sampai tujuh malam, ketika itu malam tanggal empat belas, ia tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi didatangi seorang laki-laki yang roman mukanya sangat tampan. Laki-laki tersebut mengaku bernama Adipoday. Ketika itu Raden Ayu Potre Koneng terkejut, lalu bangun, “Oh, aku bermimpi,” katanya. Setelah pagi hari ia pulang ke Sumenep. Alkisah, ada dua orang pertapa bersaudara. Mereka adalah putera-putera Panembahan Balinge yang bergelar Ario Pulangjiwo. Yang seorang bernama Adipoday, dan yang satu lagi bernama Adirasa. Adipoday bertapa di gunung Gegger, dan Adirasa di ujung gelagah. Dari hari ke hari, bulan berganti bulan, kini perut Raden Ayu Potre Koneng semakin besar. Ia hamil. Dan kehamilannya itu, membuat bapak ibunya marah, hingga pada suatu hari ia akan dihukum mati. Bapak ibunya tidak kuat menahan rasa malu karma puteri satu-satunya hamil diluar nikah. Bapak ibunya akan merasa malu andaikata peristiwa ini didengar oleh raja-raja yang lain. Di samping itu, akan mencemarkan nama baik pemerintah clan keluarga besar keraton. Itulah pandangan kedua orang tua Raden Ayu Potre Koneng mengenai kehamilan puterinya. Apa yang terjadi setelah Pangeran Saccadiningrat memberi putusan hukuman mati terhadap putrinya? Berbagai upaya dilakukan oleh permaisuri, para menteri dan Patih yang menaruh belas kasihan kepada Raden Ayu Potre Koneng. Mereka mengadakan perundingan, mencarikan jalan untuk memperoleh keringanan cara untuk melunakkan hati baginda raja. Akhirnya, beliau raja berkenan merubah keputusannya, dengan Persyaratan agar putrinya tidak sampai terlihat beliau. Dengan batalnya keputusan hukuman mati itu, Raden Ayu Potre Koneng disembunyikan agar tidak terlihat baginda raja. Begitulah, ketika kandungannya berusia sembilan bulan, maka pada suatu malam bertepatan dengan tanggal empat belas, Raden Ayu Potre Koneng melahirkan seorang bayi laki-laki. Sang puteri melahirkan tanpa mengucurkan darah setetes pun, dan tanpa mengeluarkan ari-ari pula. Sang bayi tampak elok, bersih, dan berseriseri, mengingatkan sang puteri kepada orang yang pernah datang dalam mimpinya. Kelahiran bayi mungil itu membuat sang puteri me rasa takut dan malu pada bapak ibunya. Ta takut disangka berbuat yang tidak baik. Karena itu, Raden Ayu Potre Koneng memanggil dayangnya. “Mbok! Sebenarnya aku tidak tega menyingkirkan bayi ini. Tapi apes bisa buat, inilah satu-satunya cares terbaik, “kata sang puteri memelas. “Maksud Tuan putri?” tanyanya agak heran. “Bawalah bayi ini ke tempest yang jauh,” perintahnya, tapi ingest yes, Mbok, jangan di letakkan di sarang macan. Aku khawatir dimakan. ” “Segala titah Tuan puteri akan hamba laksanakan demi keselamatan Jeng puteri,” jawab si Mbok. Dengan belaian kasih sayang, dilepaslah bayi itu dari pangkuan ibundanya. Lalu, diserahkannya kepada Si Mbok. Bayi tersebut dibawanya menuju arah selatan. Sementara pipi sang putri penuh dengan derai air mates mengenang nasib putranya tercinta. Menjelang matahari terbit, Si Mbok tadi telah sampai ke alas gunung selatan. Bayi yang masih kemerahan itu diletakkan di suatu tempest yang benar-benar terjamin keamanannya. Di bawah pohon yang rindang itulah sang bayi diletakkan, lalu ditutup dengan dedaunan. Selesai melaksanakan tugasnya, inang pengasuhnya itu pulang kembali ke keraton. Beberapa saat kemudian, inang pengasuhnya tiba di keraton. Dan, memberikan laporannya mengenai tugas yang diberikan. Diceritakan bahwa di daerah lain, yaitu di Desa Pakandangan (sekarang Pakandangan termasuk Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep), hiduplah seorang lakilaki bernama Empo Kelleng. Dalam kegiatan sehariharinya, is bekerja sebagai pandai besi. Membuat keris, pisau, dan alat pertanian. Telah sekian tahun lamanya Empo Kelleng hidup berumah tangga, is masih belum dikarunia keturunan. Berbagai usaha yang is lakukan, tapi usahanya itu masih belum membuahkan hasil. Sampai-sampai is pergi ke dukun, tapi tidak berhasil juga. Di samping sebagai pandai besi, Empo Kelleng juga memelihara kerbau. Tiap pagi binatang piaraannya itu diumbar ke hutan. Dan, bila senja pulang sendiri, lalu masuk ke kandangnya. Begitulah kerbau Empo Kelleng setiap harinya. Di antara kerbau yang banyak tadi, ada seekor kerbau betina yang berbulu putih mulus serta paling bagus dibandingkan yang lain. Ketika bayi tadi dibuang ke hutan, kerbau putih itu barn selesai menyusui anaknya. Dengan kekuasaan Allah, pada saat bayi diletakkan di hutan, secara diam-diam kerbau putih tadi berlari ke tempat bayi itu, lalu menyusuinya. Di samping menyusui, kerbau putih itu menjaganya agar tidak sampai dimakan binatang buas. Begitulah pekerjaan sehari-harinya, serta setiap pulang mesti selalu teriambat. Tingkah laku yang aneh dari kerbau putihnya itu, membuat Empo Kelleng curiga. Karena itu, is meneliti setiap kerbaunya pulang dari hutan setelah seharian mencari makan di tempat tersebut. Sudah berapa hari aku teliti kerbau yang putih ini, pasti datangnya selalu paling akhir dan perutnya kempes. Badannya semakin kurus. barangkali kerbau yang satu ini dipekerjakan oleh orang. Besok akan kubuntuti dari jauh agar aku tahu apa yang menjadi penyebabnya, pikir Empo Kelleng dalam hatinya. Keesokan harinya ketika matahari baru terbit, kerbau-kerbau itu dikeluarkan dari kandangnya sebagaimana hari-hari sebelumnya. Empo Kelleng melihat kerbau putih keluar dan berjalan di barisan paling depan. Sedangkan kerbau-kerbau lainnya ditinggalkan. Lalu Empo Kelleng membuntutinya dari jauh. Sesampainya di hutan, kerbau putih itu terus menuju ke bawah pohon tempat bayi dipisahkan. Setelah Empo Kelleng sampai di bawah pohon, is mendapati seorang bayi laki-laki yang sedang disusui kerbau miliknya. Raut wajahnya sangat tampan dan berseri-seri. Betapa gembiranya hati Empo Kelleng sebab dirinya memang sangat mendambakan keturunan. Demikianlah, maka bayi tadi digendongnya dan dibawa pulang ke rumahnya. Istrinya sangat senang, begitu suaminya menyerahkan bayi tersebut. “Anak siapa ini, Kak?” Tanya istrinya sambil menerima bayi, lalu dipangku dan diusap-usap dahinya. “Bayi ini kutemukan di hutan tempat kerbau kita mencari makan,” jawab suaminya dengan perasaan bangga. “Kasihan ya, Kak. Lalu siapa yang menyusui? “Tanyanya lagi. “Ya, kerbau yang putih itu.” jawab Empo Kelleng. Nyai Empo yang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak, tanpa disangka-sangka akhirnya menggendong bayi ini. Meskipun bayi tersebut tidak dilahirkan oleh Nyai Empo, namun sikapnya bagaikan seorang ibu yang baru melahirkan. Ia minum jamu, susunya dibuat besar supaya keluar air susu. Nyai Empo ingin sekali menyusui bayinya. Namun, usahanya itu tidak berhasil. karena itu, maka bayi tetap menyusu pada kerbau putih. Dan, memberinya nama “Jokotole”. Sejak Empo Kelleng mempunyai anak Jokotole, siang ma’am tamu-tamu berdatangan dengan membawa oleh-oleh. Ada yang memberi uang untuk membelikan bajunya. Dan sejak saat itu pula, rezeki keluarga Empo Kelleng semakin bertambah. Dari pemberian orangorang yang berkunjung ke rumahnya menyebabkan Empo Kelleng semakin kaya. Lain halnya dengan Raden Ayu Koneng. Ia bermimpi lagi untuk yang kedua kalinya. Ia didatangi orang yang pernah datang dalam mimpinya dulu sampai tidur bersama di malam itu. Perstiwa ini terjadi di keraton Sumenep. Dan, ketika bangun, is terkejut. Sebentar duduk, kemudian tengkurap ke bantal. Dalam hatinya sangat gelisah karma peristiwa beberapa tahun yang silam takut terjadi lagi. “Kalau aku hamil lagi, pasti aku akan dihukum mati oleh orang tuaku. Mereka pasti me-nyangka bahwa aku tidak mau dinikahkan sebab mempunyai pacar maling sakti itu, “kata Raden Ayu Potre Koneng dalam hatinya. Pada malam itu, adalah menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya. Mendengar ada orang menangis, lalu inang pengasuhnya bangun. “Ada apa Tuan Puteri malam-malam begini menangis? tanyanya terheran-heran. “Tapi dulu-dulunya bila Tuan puteri bangun tidur, iangsung mengambil air wuduk, terns bersembahyang dan membaca Al-Qur’an sampai matahari terbit.” “Aku bermimpi lagi, Mbok,” jawab sang puteri. “Mimpi apa Tuan putri?” Tanyanya lagi. “Laki-laki yang pernah datang dalam mimpiku dulu, kini datang lagi. Ia mengaku bernama Adipoday. Aku takut, Mbok. Yang jelas kalau ketahuan aku hamil, pasti tidak akan mendapat ampunan dari bapakku. ” “Yuan puteri jangan khawatir. Benar macan itu galak, namun sejak zaman kuno hamba belum pernah mendengar berita bahwa macan itu makan anaknya sendiri, “ujar Si Mbok menenangkan Raden Ayu Potre Koneng. Sang putri kembali agak tenteram jiwanya, meskipun masih ada rasa gelisah dalam perasaannya. Hari bertambah hari, bulan berganti bulan, perut sang puteri semakin besar. Ia hamil untuk yang kedua kalinya. Bagaimana tanggapan bapak ibunya setelah mengetahui perut puterinya besar? Biarpun sang puteri berusaha agar bapak ibunya tidak tahu bahwa dirinya hamil, akhirnya ketahuan juga. Pada suatu hari bapak ibunya tahu bahwa perut pu-terinya besar. Namun mereka tidak menanyakan apaapa, sebab hal itu disangka penyakitnya yang dulu kambuh lagi. Setelah kehamilan Raden Ayu Potre Koneng genap bulannya, pada waktu tengah malam lahirlah seorang bayi laki-laki. Rant wajahnya tidak berbeda dengan Jokotole. Ia sangat tampan dan berseri-seri. Demikianlah, bayi yang baru lahir itu akan diasingkan ke hutan ini sebagaimana kakaknya dulu. Inang pengasuhnya secara diam-diam menggendong bayi tersebut menuju arah selatan. Sampai di sebuah hutan tempat kakaknya dulu diasingkan, lalu si bayi diletakkan di bawah pohon besar yang menjadi tempat singgah dan tidurnya burung-burung. Di bawah pohon itu sangat sepi, tidak ada bekas telapak kaki orang berjalan. Dan, sebesar burung yang berhenti, apalagi burung yang bermalam di pohon samasama memaruhkan makanan ke mulut bayi tersebut seperti memaruhkan makanan pada anaknya sendiri. Itulah yang menjadi makanan bayi sehari-harinya. Alkisah di daerah lain ada orang yang bernama Kyai Padhemmabu. Pada waktu malam hari, is melihat cahaya kemilauan dari arah timur. Saat itu pula is mendekatinya. Semakin didekati sinar tadi, semakin terang cahayanya. Akhirnya sirna seketika. Kyai Padhemmabu cepat-cepat mendekati bekas sinar itu, lalu melihat seorang bayi lakilaki, yang tadinya merupakan seberkas sinar. Diambilnya bayi tersebut dan digendong, lalu dibawa pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah bayi itu diberikan kepada anak perempuannya. Anaknya sangat senang ketika menerimanya, karma mendapat anak tanpa hamil sendiri. Oleh karma itu, maka kehadiran bayi tersebut dianggap seperti anaknya sendiri. Bayi itu disusui sendiri, dan diberi nama “Agus Wedi” (Banyak Wedi). Dalam asuhan Kyai Padhemmabu, bayi Agus Wedi tumbuh dan berkembang menjadi besar. Kini adalah telah berusia lima tahun. Dan, tiap hari tiada lain pekerjaannya adalah ikut menggembala sapi ke tegal-tegal. Lain halnya dengan kakaknya, Jokotole. Ia sudah berumur lebih dari enam tahun. Bila Empo Kelleng hendak berangkat ke tempat kerjanya, Jokotole ingin ikut, namun tidak diijinkan karma is sangat nakal, takut terkena apinya. Jokotole memang sangat disenangi oleh Empo Kelleng dan istrinya. Keinginan Jokotole untuk ikut bapaknya, akhirnya terkabul juga. Ia terpaksa ikut ke tempat bapaknya bekerja. Ketika waktu zuhur tiba, Empo Kelleng dengan Para pekerjanya beristirahat untuk bersembahyang. Semua alat besinya disimpan. Ketika Empo Kelleng dan Para pekerjanya bersembahyang, Jokotole lalu menyulut api. Sambil membakar besi, dibuatlah alat seperti arit, beliung, linggis, dan lain-lain. Bentuknya lebih bagus dari buatan Empo Kelleng. Sedangkan yang dipergunakan sebagai alat pembuatan adalah lututnya. Lutut dipergunakan sebagai alas, dan tangannya sebagai palu, jari-jari sebagai jepit dan kikir. Ada yang mengatakan bahwa cara pembuatannya hanya dipijit dengan jarijarinya. Begitu Empo Kelleng dan para pekerjanya selesai bersembahyang, lalu mereka melihat banyak perkakas yang sudah selesai dibuat. Mereka merasa heran melihat perkakas sebanyak itu. Namun tidak menyangka sama sekali bahwa hal itu hasil pekerjaan Jokotole. Selanjutnya pekerjaan itu dikerjakan oleh Jokotole sampai beberapa hari, namun tak satu pun orang yang tahu. (R.Werdisastra dalam Babad MADURA)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2012 in madura

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: