RSS

Alhamdulillah . . . ..

18 Des
FKIP IPA

Melihat kesibukan akademik para mahasiswa FKIP Unija serasa pusing sendiri. Perkuliahan, praktikum, laporan, posttest lisan, PKM, PPL, Proposal, persiapan KKN, aktivitas keorganisasian, tugas-tugas dari dosen, dan berbagai aktivitas lain merupakan sederet kegiatan yang setiap hari dapat kita amati keberlangsungannya di fakultas ini. Sebagai dosen, yang tiap hari secara langsung bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas tersebut saya tahu jelas bagaimana arti “sibuk” pada setiap kata yang mereka ucapkan. Herannya, wajah-wajah mereka jarang sekali saya lihat menampakkan penat dan stress. Keceriaan lebih mendominasi.

            Cemara-cemara hijau yang begitu cepat tumbuh dan memanjangkan jarum-jarum berklorofil itu juga seolah terkena imbas cepatnya ritme kehidupan di FKIP.
            Menjadi dosen di fakultas ini memberi saya peluang untuk menjalani dua dimensi kehidupan sekaligus. Dimensi yang pertama adalah kehidupan bersama para mahasiswa, dimana berbagai aktivitas yang mereka lakukan menjadi warna-warna yang menggores eksistensi dimensi ini. Sibuk namun penuh keceriaan, itulah gambaran dasar dari dimensi kehidupan yang pertama ini.
            Dimensi yang kedua adalah kehidupan dosen dalam institusi dan struktur kelembagaan yang menaungi jalannya proses akademik. Dimensi ini dipenuhi oleh interaksi saya dengan para dosen lain serta orang-orang pada struktur prodi, fakultas atau universitas. Kesibukan juga menjadi warna dasarnya. Perencanaan instruksional, anggaran biaya, manajemen organisasi, rapat-rapat, akreditasi, penelitian, pengabdian masyarakat, dan berbagai aktivitas lain menjadi unsur-unsur penyusun dimensi yang kedua ini. Kehidupan pada bagian ini lebih tidak terlihat, ia ada dan berjalan di balik tembok-tembok kantor fakultas yang tebal dan tertutup.
            Pada dimensi yang kedua ini saya lebih sering melihat konflik, wajah-wajah stress, penat dan keluhan. Ada juga yang tetap ceria, yaitu mereka yang malas alias tidak begitu peduli dengan barbagai tanggung jawabnya sebagai dosen.
Padahal saat kuliah dulu, saya selalu membayangkan betapa menyenangkannya hidup sebagai dosen.
            Dosen mengajarkan banyak teori kepada mahasiswa. Dosen juga diharapkan menjadi model bagi penerapan berbagai teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai dosen FKIP saya dituntut untuk tidak hanya pandai menjelaskan bagaimana teori tentang belajar, tetapi juga dituntut lebih keras lagi untuk menjadi contoh tentang bagaimana mengaplikasikan berbagai teori tersebut. Walaupun sulit, namun itulah tugas dan peran kita.
            Walaupun sulit, namun saya melihat sudah banyak dosen yang mampu menjelaskan teori dan mengaplikasikannya. Artinya, mengajarkan teori dan menjadi model sekaligus. Mengajarkan bagaimana belajar dan hidup berdisiplin. Namun dalam hal menikmati proses yang dijalani sepertinya para mahasiswalah yang menang. Bahkan, sepertinya mereka yang layak untuk dijadikan model.
            Mungkin anda tidak sependapat dengan saya. Dan sepertinya ada banyak yang berpendapat bahwa keceriaan bukanlah hal penting untuk diperhatikan. Bukankah sebagai dosen kita harus lebih serius? Dan bukankah keceriaan pada wajah-wajah mahasiswa menunjukkan masih minimnya tanggung jawab yang mereka pikul?
            Mari kita memikirkannya lebih mendalam. Seringkali kita menganggap atau mengidentikkan keceriaan dengan ketidakseriusan. Padahal keduanya merupakan hal yang berbeda. Ceria atau stres melambangkan bagaimana suasana hati dan perasaan seseorang. Sedangkan serius atau tidak lebih terletak pada daya konsentrasi dalam mengerjakan suatu aktivitas. Seseorang dapat melakukan suatu aktivitas dengan berkonsentrasi penuh dalam suasana hati yang ceria, dan ada pula yang mengerjakan sebuah aktivitas dengan berkonsentrasi dalam suasana hati yang murung dan stres.
            Kita dapat berkonsentrasi dalam melakukan suatu pekerjaan baik dengan hati ceria atau murung. Namun dalam pengalaman saya dan mungkin yang juga anda alami, konsentrasi akan jauh lebih mudah dan tahan lama jika kita melakukan pekerjaan dengan hati senang dan ceria. Konsentrasi pada saat kita murung dan jenuh hanya akan bertahan sebentar.
            Lalu apa yang menyebabkan stres dan murung bertahan dalam perasaan? Saya coba untuk mengingat-ingat dan membayangkan kembali bagaimana stres dan murung yang saya alami saat melakukan suatu pekerjaan. Apakah karena pekerjaan yang terlalu banyak? Namun banyak saya dapati orang-orang dengan pekerjaan yang jauh lebih banyak dan tanggung jawab yang lebih besar ternyata bisa tetap ceria dan bahkan memberi semangat pada orang-orang lain.
Pada titik inilah saya bingung.
Kembali saya menelusuri lorong-lorong ingatan dalam pikiran. Kapan saya merasakan stres, jenuh atau murung? Perlahan-lahan ingatan ini memberikan jawaban. Dari berbagai peristiwa yang saya alami saya mendapatkan kenyataan bahwa stres dan murung berasal dari anggapan bahwa diri kita gagal, tidak mampu melakukan, orang-orang tidak menyukai, takut, tidak punya dan tidak mendapatkan hal-hal yang diinginkan. Anggapan-anggapan itu muncul dari pikiran yang tidak saya sadari (berada jauh di dalam kesadaran). Dalam bahasa yang lebih keren, angapan negatif itu telah menjadi pola pikir (mind set).
Secara sederhana saya dapat menjelaskan peristiwa tersebut dengan logika berikut:
“Anggapan negatif (pikiran tak sadar) → stres dan murung (perasaan) → tidak konsentrasi dan lelah (pikiran sadar)”
Lalu bagaimana cara untuk mengubah berbagai anggapan negatif yang bersemayam jauh di dalam pikiran yang tidak kita sadari? Kembali saya bingung dan kali ini tidak dapat mencari jawabannya dalam pikiran.
Saya coba untuk menggali informasi dan hikmah dari membaca dan bertanya pada orang lain. Dari sekian banyak informasi ada satu hal yang tampaknya memiliki korelasi sangat kuat dengan permasalahan anggapan negatif ini. Yaitu dengan menggunakan pikiran sadar kita sendiri. Kita dapat perlahan-lahan mengganti anggapan negatif dalam pikiran tak sadar kita melalui secara sadar dan berkonsentrasi penuh memikirkan barbagai hal positif yang sebenarnya telah kita miliki dan kita dapatkan. Seperti misalnya tubuh yang sehat, kecukupan makan, keluarga yang sehat dan utuh, pikiran yang berjalan dengan baik, udara bersih, air bersih, nama baik, teman-teman yang mendukung, tempat tinggal yang terlindung dari berbagai bencana, kendaraan yang mengantar kita kemana-mana, pakaian yang layak, peluang untuk belajar, dan lain sebagainya.
Jika kita menghitung dengan sadar maka akan kita dapatkan angka yang jauh lebih besar pada berbagai hal positif yang kita dapatkan atau miliki daripada hal-hal negatif yang sebenarnya semu. Misalnya uang yang kita miliki tidaklah banyak, namun sebenarnya cukup membiayai hidup dan halal sehingga harusnya membuat kita menjadi tenang. Atau teman yang seringkali membuat jengkel, namun bisa jadi hal tersebut memberi kita peluang untuk menjadi pribadi yang memiliki kelebihan dari teman-teman sehingga kita menjadi panutan dan diangkat menjadi pemimpin.
Dengan demikian ada banyak hal negatif yang sebenarnya memiliki dampak positif, tergantung bagaimana anggapan kita. Untuk itulah secara sadar kita harus menggali nilai-nilai positif kehidupan dan menanamkannya secara perlahan pada mind set kita. Dalam Islam konsepsi ini dikenal dengan istilah syukur. Melakukan syukur misalnya dengan mengucapkan alhamdulillah  secara sadar dan benar-benar dipahami (bukan hanya sekedar diucapkan) pada setiap proses yang telah kita lewati akan memunculkan dampak yang sangat luar biasa dalam jiwa.
Saya membaca Surat Ibrahim ayat tujuh yang bunyinya:


Yang artinya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.
Dalam filosofi syukur ini tampaknya kita perlu belajar banyak pada keceriaan mahasiswa menjalani hidup. Dan juga menyadarkan mereka lebih dini agar tidak kehilangan sikap syukur itu saat dewasa dan telah mendapatkan banyak hal positif dalam hidup namun tidak mensyukurinya. 
Sumber Artikel : Disini
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Desember 2012 in catatan Q, pendikikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: